Marhaban Ya... Ramadhan....
Ya... Sesuai dengan judul blog saya di atas, sebentar lagi kaum muslimin dan muslimat insya allah akan melaksanakan ibadah puasa, alangkah besar rahmat yang telah Allah berikan kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad,SAW.
Walau demikian, ada sebagian pendapat dari berbagai golongan untuk menentukan permulaan Ramadhan dan akhir dari Ramadhan, Sebagian ada yang masih menggunakan paham melihat bulan dan sebagian lagi ada yang berdasarkan perhitungan, yang menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa paham yang berdasarkan melihat bulan tidak menggunakan paham mereka juga untuk menentukan waktu shalat, pada zaman nabi dulu manusia menggunakan sinar matahari untuk menentukan waktu shalat dan sebagai penentu mula dan akhir puasa, termasuk juga dengan melihat bulan, berdasarkan dari letak dan kondisi negaranya, sangatlah mungkin beliau naik ke atas permukaan yang lebih tinggi untuk melihat apakah Hilal telah nampak atau belum, dan sangatlah mungkin juga kita yang tinggal di Indonesia naik ke atas gedung yang tinggi untuk memastikan juga apakah Hilal juga telah nampak, di era yang begitu canggih seperti sekarang ini, apakah masih relevan cara yang demikian kita gunakan? Ilmu alam adalah pasti seperti 1+1 pasti hasilnya 2, Jika kita naik keatas gedung yang tinggi, belum tentu kita dapat melihat hilal terebut dikarenakan suatu hal, mendung misalnya, atau tertutup awan tebal, Padahal menurut hitungan yang sudah pasti, Hilal itu harusnya telah nampak, tetapi karena tertutup awan tebal atau mendung tadi, maka paham yang masih menggunakan cara melihat akan menggenapkan bilangan puasa mereka, ingat hari - hari apa saja yang diharamkan untuk berpuasa? salah satunya adalah di hari raya idhul fitri. Saya sendiri masih bingung dengan kedua paham tersebut,mana yang harus saya ikuti, apakah paham yang menghitung atau yang melihat, bagi rekan - rekan semua dimohon pencerahan untuk saya, terimakasih. Wassalam....
Walau demikian, ada sebagian pendapat dari berbagai golongan untuk menentukan permulaan Ramadhan dan akhir dari Ramadhan, Sebagian ada yang masih menggunakan paham melihat bulan dan sebagian lagi ada yang berdasarkan perhitungan, yang menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa paham yang berdasarkan melihat bulan tidak menggunakan paham mereka juga untuk menentukan waktu shalat, pada zaman nabi dulu manusia menggunakan sinar matahari untuk menentukan waktu shalat dan sebagai penentu mula dan akhir puasa, termasuk juga dengan melihat bulan, berdasarkan dari letak dan kondisi negaranya, sangatlah mungkin beliau naik ke atas permukaan yang lebih tinggi untuk melihat apakah Hilal telah nampak atau belum, dan sangatlah mungkin juga kita yang tinggal di Indonesia naik ke atas gedung yang tinggi untuk memastikan juga apakah Hilal juga telah nampak, di era yang begitu canggih seperti sekarang ini, apakah masih relevan cara yang demikian kita gunakan? Ilmu alam adalah pasti seperti 1+1 pasti hasilnya 2, Jika kita naik keatas gedung yang tinggi, belum tentu kita dapat melihat hilal terebut dikarenakan suatu hal, mendung misalnya, atau tertutup awan tebal, Padahal menurut hitungan yang sudah pasti, Hilal itu harusnya telah nampak, tetapi karena tertutup awan tebal atau mendung tadi, maka paham yang masih menggunakan cara melihat akan menggenapkan bilangan puasa mereka, ingat hari - hari apa saja yang diharamkan untuk berpuasa? salah satunya adalah di hari raya idhul fitri. Saya sendiri masih bingung dengan kedua paham tersebut,mana yang harus saya ikuti, apakah paham yang menghitung atau yang melihat, bagi rekan - rekan semua dimohon pencerahan untuk saya, terimakasih. Wassalam....
